Kehidupan memang tak pernah lepas dari realita. Beberapa realita yang mungkin sering dialami oleh pasangan kekasih adalah antara sahabat VS pacar.
Sahabat VS pacar, pertanyaan yang sering muncul disini adalah " lebih penting mana sahabat dan pacar?"
Joni dan Jeni , pasang kekasih mudah yang hampir 2 tahun sudah menjalani hubungan percintaan mereka. Suatu saat joni bertanya kepada jeni melalui pesan elektronik :
Joni : cinta, jika ak menyuruhmu untuk menjawab , lebih memilih yang mana antara sahabat dan pacar ?
Jeni : Jeni bingung dan terdiam dengan pertanyaan joni,pacarnya. mengapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu sayang ?
Joni : sudah, tinggal jawab saja. aku hanya ingin mengetahuinya saja beserta alasanmu.
Jeni : aku tidak bisa menjawabnya sayang, menurutku kalian itu sama-sama penting.
Joni : okay, mungkin aku ganti pertanyaan saja , kalau untuk prioritas ? lebih prioritas mana cinta antara aku dengan sahabatmu ?
Jeni : aku tidak bisa menjawabnya sayang , jangan paksa aku untuk menjawab pertanyaanmu itu, karena kalian sama -sama penting untukku.
Joni : aku hanya ingin tahu saja, apa susahnya untuk menjawab.
Jeni : sahabat , karena sahabat paling mengerti kondisiku disaat aku sedih, senang, susah, dan duka.
Joni merasa terbaikan dengan perkataan jeni, joni merasakan sesutau yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.
Joni : ouwh, jadi aku berada di urutan ke dua setelah sahabatmu :) , ok
Jeni : apakah kamu marah dengan jawabanku sayang ?
Joni : tidak, tenang saja :)
Jeni : yakin ?
Joni : iya
Jeni : tapi mengapa balasan textmu menjadi dingin ?
Joni : ngga kok ? bukan kenapa-kenapa, tenang saja :)
Jeni : tetapi aku merasakan sesuatu yang berbeda dengan balasa text dari mu.
Joni ; ah , mungkin hanya perasaanmu saja
Haripun mulai berlalu, Joni masih menyimpan perasaan yang membuatnya berpikir setiap hari , membuatnya menguras energi , membuatnya emosi, hal itu yang membuat mood dari joni naik dan turun setiap hari tatkala ia mengingat perkataan dari Jeni.
Suatu hari, lontaran pertanyaan yang sama pun keluar dari mulut joni . pada waktu itu Joni dan Jeni berjanjian untuk bertemu di pagi hari untuk mengikuti sebuah acara dikampus mereka , salah satu kampus yang cukup terkenal dan elite di kawasan ibu kota. Sang suryapun perlahan mulai menghilang tertutup oleh mendungnya awan, yang berubah menjadi rintikan air hujan.
Jeni : sayang ? apakah kamu mau utnuk pergi ke salah satu mall dijakarta great sale bersama teman-teman wanitaku ?
Joni : Joni yang saat itu merasa ngantuk dan lelah menjawab iya aku akan menemanimu , tapi tunggu aku membersihkan diri.
Jeni : yeyy , asik asik, teriak Jeni kegirangan.
Joni : ya sudah aku membersihkan diri dulu.
20 menit berlalu, Joni sudah selesai membersihkan diri, dan joni melihat dari balik jendela kaca, dan gerimis sudah membahasi halaman.
Joni : apakah hujannya sudah dari tadi ?
Jeni : iya, beberapa menit setelah kamu masuk ke kamar mandi.
Joni : kita berangkatnya setelah reda ya? tanya joni
Jeni : iya.
Dari sore hingga malam Joni, Jeni dan teman-teman Jeni bermain bersama disalah satu arena permainan yang cukup digandrungi anak muda sekarang. Suatu ketika Joni melihat ketika Jeni membuka gadgetnya dan melihat disitu ada sahabat yang dibanggakannya (seorang pria) sedang mengirim pesan kepadanya. Kemudian Joni menyuruh Jeni untuk membalas pesan itu , Joni hanya ingin mengetahui isi pesan dan bagaimana kekasihnya menanggapi pesan tersebut. apakah balasannya biasa atau berlebihan atau hanya membalas seperlunya saja ? Joni melihat sendiri dan menurut Joni pesan yang dibalas agak sedikit berlebihan, dan menggunakan emoticon-emoticon yang menurut Joni itu tidak penting , karena isi pesan yang diterima Jeni hanya kata yang singkat dan tidak terdapat kalimat untuk lanjut mengobrol. Tetapi Jeni membalasnya seakan-akan penasaran dengan apa yang sedang terjadi dengan sahabat prianya tersebut dan membuka percakapan untuk lebih lanjut. setelah mereka lelah, mereka memutuskan untuk beristirahat dan mencari tempat makan, ya benar, mereka makan ditempat biasa mereka makan dengan menu andalannya nasi goreng. Wajah lelah dan lapar terpancar dari mereka, dengan lahapnya mereka menghabiskan santapan yang berada di depannya. Setelah selesai kemudian Joni mengantarkan Jeni menuju tempat dimana ia tinggal, kemudian. Percakapan pun dimulai :
Jeni : sayang tunggu sebentar ya, aku mau membersihkan diri sebentar ?
Joni : okay yang, jangan lama-lama , lebih dari 5 menit aku tinggal pulang "canda joni kepada jeni"
Jeni : iya -iya sebentar.
Joni : pada saat Jeni membersihkan diri , Joni mendengar suara getaran dari gadget kekasihnya yang bergetar dan tidak membukanya, ia menunggu Jeni untuk membukanya sendiri.
Setelah usai
Joni : cinta, gadget kamu bergetar, sepertinya ada pesan baru
Jeni : ouwh pesan tidak penting kok
Joni : apakah sahabatmu sudah membalas text mu ?
Jeni : iya , sudah
Joni : coba di buka
Jeni : tidak ah, ak lagi tidak ingin membuka dan membalasnya
Joni : tidak apa-apa, balas joni
kemudian Jeni membalasnya, perasaan Joni yang dari dulu sudah terpendam mengenai prioritas seakan-akan menceruat muncul ke atas permukaan, dan merubah mood yang tadinya sudah lupa kembali bergejolak , dan membuatnya semakin berpikir dengan keadaannya yang letih dan mengantuk.
Jeni : kenapa sayang ? kenapa kamu tiba -tiba sedikit berubah, apakah kamu mengantuk ?
Joni : iya
Jeni : tetapi kamu akan berubah ketika sahabat pria ku ini mengirim pesan ke aku.
Joni : aku tidak suka
Jeni : kenapa ? dia kan sahabatku, dan diantara kami tidak ada perasaan yang lebih , hanya sebatas sahabat
Joni : aku boleh bertanya ? sahabatmu ini dan pacarmu ini lebih penting siapa ?
Jeni : jangan kasih aku pilihan
Joni : bukan pilihan , aku hanya bertanya saja, dan ingin tahu alasanmu
Jeni : tidak yang , aku tidak bisa menjawabnya
Joni : ouwh , aku mengerti , kamu tidak bisa menjawab karena menurutmu masih lebih penting sahabatmu daripada aku. karena kamu terlihat sulit untuk menjawab, kalau kamu memilih aku pastinya akan dengan mudah dan tanpa beban untuk memilih aku, tetapi aku melihat raut dan bahasa tubuhmu kalau kamu lebih memilih sahabatmu, walaupun kamu tidak mengatakannya.
Jeni : ak memilih kamu, karena ak pacar kamu, tetapi aku juga tidak bisa meninggalkan sahabatku, karena aku berbagi dengan mereka disaat aku sedang bertengkar denganmu , sedang sedih, dan mereka tahu kebaikan dan keburukanku.
Joni : ouwh iya , antara aku dan sahabatmu yang lebih dulu kamu kenal adalah sahabatmu , sedangkan hubunganmu dan aku hanya beberapa tahun saja. yah jadi aku tahu sekarang proporsinya
Jeni : bukan begitu, aku tetap memilih kamu, karena dimasa mendatang aku akan hidup bersama denganmu, berbagi cerita, senang , duka dan keluh kesah.
Joni : tetapi aku tidak suka dengan caramu membalas pesan dari sahabatmu itu. menurutku itu agak sedikit berlebihan, balas seperlunya saja dan secukupnya. kalau dia hanya menyapa , balas saja dengan sapaan saja, tidak usah memakai embel-embel untuk membuka percakapan.
Jeni : tidak bisa, karena aku memang orangnya begitu jika dengan sahabatku. aku tidak bisa jika hanya membalas singkat.
Joni : ouwh okay, tetapi aku tidak suka
Jeni : bukannya dari dulu memang kamu sudah tidak suka ?
Joni : iya memang, aku tidak pernah suka, menurutku kamu sedikit cari perhatian dengan sahabatmu.
Joni merasa, Jeni mencari perhatian kepada sahabatnya, seolah-olah perhatian yang diberikan Joni ke Jeni tidak ada apa-apanya dibandingkan perhatian dari sahabat prianya ini. Jonipun mulai mengerti kondisi dan proporsinya sebagai sesorang yang baru di hati Jeni. karena ia hanya 2 tahun bersama Jeni, sedangkan dengan sahabatnya sudah lebih dari 9 tahun.
Jeni menangis , karena pacarnya menganggap dia mencari perhatian kepada sahabatnya.
disisi lain , Joni hanya menginginkan tidak usah berlebihan jika mereply pesan dari sahabatnya itu , karena sahabatnya ini seorang pria, karena Joni tahu pria itu seperti apa. dari sahabat bisa menjadi cinta.
-to Be Continued-
Pertanyaan yang tidak asing, bukan? beberapa orang pernah ditanya dengan kalimat itu. Beberapa menganggap ini pertanyaan sulit. Tidak sedikit pula, ada yang ingin menobatkan dirinya sebagai sahabat sejati, kemudian ia menjawab dengan sangat yakin, “saya pilih sahabat! Karena pacar bisa dicari.”
Mungkin Blogistterbilang aneh, tapi inilah pemikiran dari blogist :
Kekasihku yang baik, ia tidak memiliki kekasih lain selain aku. Sedangkan sahabatku yang baik, ia punya banyak sahabat, aku hanya salah satunya. Maka bila aku berada di antara dua pilihan dan tidak ada pilihan lain selain memilih salah satunya, tanpa mengurangi rasa hormatku pada sahabat yang baik, kekasih yang baik yang aku pilih.
*Pacar suatu saat akan menjadi SAHABAT HIDUP*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar